Berita Daerah

Aksi Mahasiswa dan Tim Investigasi HAM di Nabire Berlangsung Damai, Situasi Tetap Kondusif

Published

on

Pendekatan Humanis Kapolres Nabire Redam Aksi Massa, Demontrasi Berlangsung Damai dan Terkendali”


Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Massa aksi yang mengatasnamakan Tim Investigasi HAM dan Mahasiswa Puncak se-Indonesia berkumpul di Kantor DPR Papua Tengah, Senin (27/4/2026), untuk menyampaikan aspirasi terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Kabupaten Puncak.
Massa yang datang dari berbagai titik di wilayah Nabire tersebut menyatukan barisan dan secara bergantian menyampaikan tuntutan melalui orasi terbuka. Dalam aksinya, mereka mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera menarik pasukan TNI non-organik dari wilayah Papua.


Selain itu, massa juga meminta aparat penegak hukum untuk menangkap, memecat, dan mengadili pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan 10 warga sipil di Kampung Kemburu, Kabupaten Puncak, sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Aksi tersebut juga membawa pesan solidaritas yang lebih luas dengan menyerukan perhatian dunia internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terhadap situasi kemanusiaan di Papua.
Selama aksi berlangsung, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan pengawalan ketat di sekitar Kantor DPR Papua Tengah guna menjaga keamanan dan ketertiban. Sejumlah pejabat turut hadir di lokasi, di antaranya Dandim 1705 Nabire, Kapolres Nabire, unsur DPR Papua Tengah, DPRK, MRP Papua Tengah, serta Danlanal Nabire.
Hingga kegiatan berakhir, situasi di sekitar lokasi aksi terpantau aman dan kondusif. Penyampaian aspirasi berlangsung tertib dengan pengamanan dari aparat keamanan.


Kapolres Nabire, AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, menyampaikan bahwa rangkaian aksi yang dimulai sejak pukul 07.00 WIT hingga 15.40 WIT berjalan lancar. Ia menegaskan bahwa pengamanan dilakukan secara terukur melalui koordinasi lintas instansi bersama unsur Forkopimda.
“Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Meskipun ada beberapa titik yang kami izinkan untuk long march dengan pertimbangan situasi di lapangan, namun seluruh kegiatan tetap berada dalam koridor keamanan,” ujarnya.
Keberhasilan pengamanan aksi ini tidak terlepas dari pendekatan humanis yang dilakukan Kapolres dalam berkomunikasi dengan seluruh pihak, termasuk para peserta aksi. Dalam interaksi di lapangan, terbangun suasana kekeluargaan di mana Kapolres menggunakan sapaan “kakak”, sementara para pendemo merespons dengan menyebut “adik”.
Pendekatan persuasif dan komunikasi yang humanis tersebut dinilai efektif dalam meredam potensi konflik serta menjaga situasi tetap kondusif. Cara ini bahkan dianggap sebagai langkah yang patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh ke depan dalam penanganan aksi unjuk rasa, sehingga penyampaian aspirasi dapat berlangsung damai tanpa anarkisme.
Kapolres juga memastikan seluruh peserta aksi dapat kembali ke titik kumpul dengan aman. Sebanyak 15 truk disiapkan oleh petugas, dengan tujuh di antaranya digunakan untuk mengantar peserta kembali ke Asrama Puncak di wilayah Pasar Karang, Jepara.
Ia turut mengimbau para peserta aksi untuk tetap menjaga ketertiban saat kembali, agar tidak menimbulkan persoalan baru di jalan.


Meski sempat terjadi insiden kecil berupa pecahnya kaca akibat lemparan, situasi secara umum tetap terkendali. Koordinasi antara aparat keamanan dan pihak DPR Papua Tengah pun berjalan baik selama kegiatan berlangsung.
Keberhasilan pengamanan ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak, termasuk TNI-Polri, pemerintah daerah, serta para tokoh masyarakat dan kepala suku. Sebanyak 827 personel gabungan diterjunkan untuk memastikan keamanan tetap terjaga.
Secara keseluruhan, aksi penyampaian aspirasi di Nabire berlangsung damai dan menjadi cerminan penyampaian pendapat di muka umum yang tetap menjunjung tinggi ketertiban serta keamanan bersama. (red-enagoNews)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending

Exit mobile version