Berita Deiyai

Dinobatkan sebagai Kepala Besar Suku Wate, Otis Monei Dinilai Konstruktif dan Rendah Hati

Published

on

Nabire, enagoNews — Otis Monei, S.Sos., M.Si secara resmi dinobatkan dan dikukuhkan sebagai Kepala Besar Suku Wate dalam upacara adat yang berlangsung di Taman Gizi Nabire, Rabu (19/11). Prosesi sakral tersebut disaksikan para pemangku adat, Forkopimda Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua Tengah, enam suku asli di Nabire, serta perwakilan suku-suku lain.

Penobatan ini menjadi harapan baru bagi masyarakat Suku Wate maupun suku-suku lainnya di Provinsi Papua Tengah.

Wartawan senior, Emanuel Youw, kepada enagonews mengatakan bahwa Otis Monei merupakan sosok konstruktif yang mampu memadukan tiga pilar kepemimpinan yang jarang dimiliki seorang kepala suku.

“Bapak Otis Monei merupakan sosok yang konstruktif yang dimiliki Suku Wate. Beliau seorang birokrat, seorang gerejawi atau rohaniawan, plus kepala suku,” tutur Eman.

Menurutnya, pemimpin adat di era saat ini dituntut mampu merangkul seluruh kelompok etnis, baik dari wilayah pantai, gunung, maupun suku-suku nusantara yang bermukim di Papua Tengah. Otis, kata Eman, juga dikenal nasionalis dan menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.

Eman menjelaskan, seorang kepala suku secara tradisi memiliki kedekatan dengan alam dan Sang Pencipta, karena memikul peran spiritual dan kultural dalam menjaga keseimbangan komunitas.

Ia juga menyinggung karakter Suku Wate yang dikenal rendah hati, tidak arogan, dan mampu hidup berdampingan dengan berbagai suku di Nabire.

“Karakter suku ini diam bila disakiti, namun disitulah letak kekuatannya. Saat mereka disakiti tetapi diam, berarti alam dan Tuhan yang akan membela,” jelasnya.

Senada dengan Eman, Pendeta Leonardo Waerara dari Provinsi Papua Selatan menilai pengukuhan Otis Monei sebagai sebuah berkat bagi tanah Papua Tengah.

“Di gereja, Pak Otis adalah jemaat saya, adik. Namun di luar itu beliau sosok yang luar biasa. Penobatannya tidak mungkin tanpa campur tangan Tuhan,” kata Pdt. Leonardo.

Pengukuhan ini diharapkan memperkuat persatuan masyarakat adat serta memperkokoh peran Suku Wate dalam kehidupan sosial, budaya, dan pembangunan di Papua Tengah. (Mus)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending

Exit mobile version