Nabire, Papua Tengah– enagoNews – Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan menyusul maraknya kasus perselisihan antara guru dan siswa yang berujung pada kekerasan, bahkan hingga proses hukum. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan luas di tengah masyarakat, termasuk kalangan pendidik.
Tak jarang, guru sebagai pendidik justru menghadapi tekanan dari orang tua murid yang merasa anaknya menjadi korban. Situasi tersebut dinilai mencerminkan tantangan besar dalam sistem pendidikan saat ini, terutama dalam membangun karakter peserta didik.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Sekolah SMP YPPK Santo Antonius Nabire, FX Heri Purwanto, menilai bahwa perubahan pola pendidikan dan karakter anak menjadi faktor penting yang perlu dicermati.
“Pola pendidikan dan karakter anak-anak zaman sekarang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya,” ujar Heri Purwanto, Rabu (28/1/2026).
Ia menegaskan bahwa guru sejatinya merupakan orang tua kedua bagi siswa di sekolah, namun memiliki keterbatasan waktu dalam proses pembinaan. Sementara itu, pembentukan karakter anak lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh keluarga dan lingkungan pergaulan.
Oleh karena itu, Heri mengingatkan seluruh dewan guru agar senantiasa mengedepankan kesabaran dalam mendidik.
“Kuncinya adalah sabar, sabar, dan sabar. Tidak boleh ada tindakan verbal maupun nonverbal yang berpotensi melukai siswa,” tegasnya.
Menurutnya, pihak sekolah tetap mengambil peran aktif apabila terdapat siswa yang melanggar tata tertib atau sulit dibina. Langkah yang ditempuh antara lain berupa teguran berjenjang hingga pemanggilan orang tua murid.
“Pendekatan komunikatif dan persuasif menjadi jalan tengah dalam menyikapi perilaku siswa yang dinilai tidak pantas,” jelas Heri.
Ia menambahkan, komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua terus dijaga agar tetap berjalan baik. Setiap kelas, kata dia, telah memiliki grup WhatsApp sebagai sarana koordinasi dan pembinaan bersama.
Dalam aspek kurikulum, SMP YPPK Santo Antonius Nabire telah menerapkan Kurikulum Merdeka sejak diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan pada 2022. Saat ini, kebijakan tersebut diperkuat dengan konsep deep learning yang menekankan tiga pilar utama, yakni meaningful, mindful, dan joyful.
“Artinya, pendidikan harus dilaksanakan secara sadar, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa,” ungkapnya.
Terkait pembelajaran berbasis teknologi, sekolah tersebut telah dilengkapi dengan laboratorium komputer, jaringan WiFi, serta tenaga pengajar bidang teknologi informasi. Namun demikian, keterbatasan jaringan internet masih menjadi kendala.
“Saat ini kami hanya memiliki satu unit router WiFi Indihome. Idealnya diperlukan tambahan sekitar empat router agar jaringan dapat menjangkau seluruh kelas dan menunjang pembelajaran berbasis internet,” pungkas Heri. (Mus)