Nabire, enagonews — Paguyuban Pasundan tengah mengalami dinamika internal dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah warga menyebut kondisi paguyuban ibarat “terserang flu dan batuk”, yang menandakan adanya gejala dulusme atau kerenggangan kepemimpinan. Meski demikian, sebagian besar warga Jawa Barat di Papua Tengah menilai keretakan merupakan hal wajar dalam organisasi. Mereka meyakini dinamika ini tidak akan menjadi persoalan besar, terutama menjelang pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) yang akan menentukan arah kepemimpinan baru. Mubes tersebut diharapkan melahirkan sosok pemimpin yang mampu menjadi perekat warga Pasundan—seorang “Ais Pangampih” atau tokoh panutan yang dapat menaungi seluruh unsur paguyuban. Sesepuh Pasundan di Nabire, Amir, kepada enagonews, Sabtu (15/11) mengatakan bahwa Mubes mendatang menjadi momentum penting untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjawab berbagai tantangan organisasi di era digital.
“Saya mengharap seluruh warga Pasundan yang berdomisili di Papua Tengah dapat hadir untuk memberikan hak suaranya,” ujar Amir. Ia mengakui bahwa menjadi pemimpin di masa kini bukan perkara mudah. Seorang pemimpin harus bisa merangkul semua golongan, memiliki dedikasi tinggi, serta mampu menjalin kerja sama dengan pemerintah. Saat ditanya kesediaannya maju sebagai kandidat, Amir menjawab diplomatis. “Jika warga memilih saya sebagai salah satu kandidat, bahkan mempercayai saya untuk memimpin paguyuban, insyaallah saya bersedia. Semuanya saya kembalikan kepada warga,” jelasnya. Terpisah, tokoh intelektual muda Pasundan, Hadi Kuswanto, mengamini pandangan Amir. Menurutnya, pemimpin Paguyuban Pasundan ke depan harus memiliki kemampuan menaungi dan menampung aspirasi warga secara internal, sekaligus membangun hubungan harmonis dengan masyarakat non-Sunda dan pemerintah. “Pemimpin ke depan harus mampu menjalin hubungan baik ke luar, bukan hanya mengelola dinamika internal,” tutur Adi. Terkait adanya dua kubu dalam paguyuban, baik Amir maupun Adi menegaskan bahwa warga tidak berpihak pada salah satu kelompok. Mereka menaruh hormat kepada kedua tokoh yang saat ini menjadi pusat perhatian. “Kang Oni (Tabroni M. Cahya), pemimpin Pasundan 1913, kami hormati. Begitu pula Kang H. Dohris (Dohris Atang Suryana), Ketua Paguyuban Pasundan yang kini memimpin Satria Sunda Sakti (S3). Keduanya kami hormati sebagai orang tua,” kata keduanya. Mubes Paguyuban Pasundan diharapkan menjadi ruang bagi seluruh warga Sunda di Papua Tengah untuk kembali bersatu dan menemukan figur pemimpin sejati yang mampu menjadi “Ais Pangampih” — penyejuk sekaligus perekat seluruh warga. (Mus)