Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, merupakan salah satu wilayah dengan potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat lengkap dan beragam. Mulai dari kawasan daratan, pegunungan, pantai, danau hingga lembah, seluruhnya dimiliki daerah ini dan menyimpan peluang besar bagi pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan.
Di wilayah daratan Papua Tengah terbentang hutan lebat dan danau alami, sementara kawasan pegunungan menyimpan Puncak Cartensz Pyramid yang dikenal sebagai puncak tertinggi di Indonesia dengan salju abadinya. Di sisi kepulauan, Papua Tengah memiliki destinasi bahari unggulan seperti Pulau Pepaya, Mambor, Kwatisore, dan sejumlah pulau kecil lainnya yang belum tergarap optimal.
Seorang pemandu wisata sekaligus pembimbing diving, Aristoteles Wambrauw, menilai potensi SDA Papua Tengah, khususnya di Nabire, tidak kalah dengan destinasi kelas dunia seperti Raja Ampat di Papua Barat. “Ambil satu contoh Kwatisore, di sana wisatawan bisa melihat dan berenang bersama hiu paus hampir setiap hari. Ini tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya, Senin (22/12).
Aristoteles yang lahir dan besar di wilayah kepulauan Biak mengaku dunia pariwisata bukanlah hal asing baginya. Sejak usia dini, ia telah berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, termasuk dari Korea Selatan. “Bagi saya, dunia pariwisata sudah menjadi bagian dari kehidupan. Interaksi dengan dunia luar sudah saya jalani cukup lama,” tambahnya.
Namun demikian, kekayaan SDA Nabire dinilai masih kalah populer dibandingkan Raja Ampat. Menurut Aristoteles, hal itu disebabkan oleh kurangnya penanganan yang serius, minimnya pemahaman, serta lemahnya promosi pariwisata yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia menilai, promosi dan kegiatan pariwisata yang dilakukan pemerintah daerah masih bersifat seremonial dan belum menyentuh masyarakat secara luas maupun pasar wisata global.
Menurutnya, sebuah destinasi pariwisata idealnya memiliki engagement yang kuat dengan budaya lokal. Kekhasan budaya, nilai tradisi, serta perilaku masyarakat setempat justru menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara.
“Wisatawan asing ingin melihat dan merasakan sesuatu yang belum pernah mereka temui. Mengangkat budaya lokal akan menjadi daya tarik tersendiri. Mereka ingin melihat rumah dari kayu bakau, sagu, atau pinang, bukan rumah modern yang sudah biasa mereka lihat,” tegas Aristoteles.
Sebagai solo tour guide, Aristoteles juga menyoroti minimnya fasilitas pendukung pariwisata di Kota Nabire sebagai kota transit. Menurutnya, Nabire seharusnya memiliki gerai khusus yang menjual perlengkapan diving maupun suvenir khas destinasi wisata setempat.
“Selama ini gerai di Nabire lebih banyak menjual noken. Padahal potensi pariwisata Nabire sangat kompleks. Souvenir bertema bahari akan jauh lebih relevan mengingat Nabire adalah kota pesisir,” ujarnya.
Ia menambahkan, hiu paus telah menjadi ikon wisata Nabire, namun hingga kini belum tersedia gerai yang secara khusus menjual suvenir atau produk kreatif yang mengangkat ikon tersebut.
Aristoteles memprediksi sektor pariwisata Nabire akan berkembang pesat dalam satu dekade ke depan. Namun tantangan terbesar justru terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM).
“Indikasinya sudah jelas, tapi kendalanya SDM belum siap. Pengelolaan yang amburadul bisa membuat daerah kehilangan jati dirinya,” katanya.
Ia juga menilai keberadaan pengrajin noken di Nabire sudah cukup baik, namun masih terkendala pemahaman terhadap pangsa pasar. Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan sebagai fasilitator pemasaran, terlebih di era digital yang menjadikan masyarakat lokal sebagai bagian dari warga dunia. Selain itu, persoalan krusial lainnya adalah belum tersedianya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kwatisore. Akibatnya, nelayan yang terhubung langsung dengan aktivitas pariwisata masih harus mengandalkan pasokan BBM dari Kota Nabire dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
“Ini menjadi persoalan serius yang perlu segera ditangani jika ingin pariwisata bahari Nabire berkembang secara optimal,” pungkas Aristoteles.(red)