NABIRE, Papua Tengah—enagoNews- Tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang membakar sejumlah mahkota dan hiasan kepala berbulu burung Cenderawasih, Kasuari, dan Nuri menuai sorotan dari tokoh masyarakat Papua. Salah satunya Wilem Wandik. Iamenilai bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan niat baik untuk melindungi satwa langka, namun cara yang ditempuh dinilai keliru dan menyinggung nilai budaya masyarakat adat Papua.
“Kalau saya lihat, kemarin yang dilakukan itu sebenarnya tujuannya benar, yaitu untuk melindungi burung Cenderawasih. Itu memang sudah ada peraturan daerahnya. Tapi yang salah adalah caranya membakarnya di depan publik. Itu yang keliru,” ujar Willem Wandik, Jumat (24/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa burung Cenderawasih adalah simbol kehormatan dan identitas budaya masyarakat Papua. Tindakan pembakaran benda-benda adat yang menggunakan bulu Cenderawasih dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai budaya lokal, sekalipun dilakukan atas dasar penegakan hukum konservasi.
“Saya lebih setuju kalau yang selalu jual-jual Cenderawasih itu ditangkap dan diproses hukum, bukan barangnya yang dibakar di depan umum. Itu baru benar. Orang yang berburu dan menjual burung itu harus ditindak tegas, bukan simbol budayanya yang dimusnahkan,” tuturnya.
Menurutnya, kesalahan utama bukan pada upaya pelestarian satwa dilindungi, melainkan pada penempatan tindakan hukum yang tidak mempertimbangkan aspek sosial dan budaya masyarakat Papua.
“Benar, mereka mau mencegah pembunuhan Cenderawasih, itu bagus. Tapi caranya salah. Jangan bakar di depan orang banyak, apalagi benda adat yang punya nilai sakral. Yang harus ditunjukkan justru siapa yang menembak burung itu, siapa yang jual, dan siapa yang dapat untung dari situ. Itu yang ditangkap dan ditunjukkan ke publik,” ungkapnya menegaskan.
Hentikan Perburuan dan Hargai Budaya Papua
Tokoh itu juga mengimbau masyarakat, terutama para pemburu di kampung dan hutan, agar berhenti menangkap burung Cenderawasih dan satwa langka lainnya.
“Saya imbau kepada mereka yang masih berburu burung Cenderawasih, berhentilah. Jangan lagi ambil burung-burung itu di hutan. Karena itu bukan hanya soal satwa, tapi soal martabat budaya kita sendiri,” pintanya.
Politisi Partai Golkar itu menambahkan, kemarahan masyarakat Papua terhadap peristiwa pembakaran itu bukan semata karena benda yang dibakar, tetapi karena nilai budaya yang melekat di baliknya.
“Yang bikin orang Papua marah itu bukan soal barangnya, tapi karena itu bagian dari identitas dan budaya mereka. Orang Papua sangat menghormati seni dan simbol adat. Mahkota Cenderawasih itu bukan sekadar hiasan, tapi lambang harga diri,” ucapnya.
Wandik berharap agar ke depan, setiap langkah penegakan hukum di Tanah Papua, terutama yang menyangkut simbol budaya dan adat — dilakukan dengan pendekatan kultural dan edukatif, bukan tindakan yang bersifat represif atau provokatif.
“Budaya Papua itu mahal. Tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Maka ketika menegakkan aturan, harus ada dialog budaya. Jangan sampai niat baik untuk melindungi satwa justru menyinggung perasaan rakyat yang punya kearifan lokal sendiri,” tutupnya. (ing elsa)