Berita Deiyai

Petelur Ayam Nabire Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar, Peternak OAP Harap Dukungan Pemerintah

Published

on

Nabire, enagoNews — Ketersediaan telur ayam di Kabupaten Nabire hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. Hal ini diungkapkan peternak ayam petelur Orang Asli Papua (OAP), Marthen Tinouye, saat ditemui enagonews di sela-sela kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengolahan telur asin berbahan dasar buah merah, Senin (17/11).

Marthen mengakui, keterbatasan kapasitas produksi menjadi salah satu faktor utama belum terpenuhinya permintaan pasar. Dari total kapasitas kandang miliknya yang mampu menampung 8.000 ekor ayam petelur, saat ini baru 2.500 ekor yang tersedia.

“Ini salah satu alasan mengapa kami belum bisa memenuhi pasar Nabire. Jumlah ayam yang kami miliki masih sangat jauh dari kapasitas ideal,” ujarnya.

Harga Pakan Terus Naik, Produksi Tertekan

Kendala terbesar yang dihadapi Marthen adalah biaya pakan yang terus meningkat. Sejak memulai usaha peternakan pada 2018, ia mengaku sulit mengisi kandang secara penuh karena tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan harga telur yang kerap stagnan.

“Pakan terus naik, tetapi harga jual telur kadang tidak bergerak. Ini membuat kami sulit mengembangkan usaha,” jelasnya.

Di sisi lain, Marthen menyampaikan bahwa ia enggan mengajukan kredit perbankan karena tidak ingin terbebani cicilan. Ia bahkan mengaku pernah menyampaikan kendala kepada Pemerintah Kabupaten Nabire, namun hingga kini belum menerima respons.

Dinas Peternakan: Kenaikan Harga Pakan Merupakan Masalah Nasional

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire Drh. I Dewa Ayu Dwita menjelaskan bahwa kenaikan harga pakan bukan hanya terjadi di Nabire, tetapi merupakan fenomena nasional.

“Dinamika harga pakan mengikuti kurs dolar dan faktor lainnya. Ini bukan hanya terjadi di Nabire,” terang Ayu.

Ia menambahkan, peternak harus melakukan perhitungan usaha secara cermat agar tetap mampu bertahan di tengah masuknya telur dari luar daerah, seperti dari Surabaya, yang menjadi pesaing di pasar lokal.

Pasar Masih Terbuka Lebar

Meski menghadapi berbagai tantangan, Marthen menilai peluang pasar telur ayam di Nabire masih sangat terbuka. Terlebih, sebagai peternak OAP, ia optimistis usahanya dapat terus berkembang dengan dukungan yang tepat.

“Saya baru bisa memenuhi sebagian kecil kebutuhan pasar di Kabupaten Nabire. Untuk wilayah pedalaman masih sangat jauh,” tuturnya.

Ke depan, Marthen berencana membentuk asosiasi peternak ayam petelur guna memperkuat posisi peternak lokal dan meningkatkan kapasitas produksi secara bersama-sama.

“Saya berharap ada kolaborasi agar kami bisa memenuhi kebutuhan pasar Nabire,” pungkasnya. (Mus)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending

Exit mobile version