Connect with us
Advertisements

Berita Daerah

Strategi Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Berbasis Kearifan Lokal Digelar di Nabire

Published

on


Nabire, Papua Tengah – enagoNews –
Upaya penguatan layanan kesehatan reproduksi yang lebih efektif dan kontekstual terus didorong pemerintah melalui pendekatan berbasis budaya lokal. Hal ini tercermin dalam kegiatan Pengembangan Strategi Nasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Berbasis Kearifan Lokal yang digelar di Hotel Carmel, Nabire, Kamis (30/4/2026).


Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua Tengah Agustinus Bagau, SKM., M.Kes tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, S.E., M.Si, serta perwakilan Dinas DP3AKB dari delapan kabupaten di Papua Tengah. Turut hadir pula berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh agama, hingga perwakilan masyarakat dan mitra pembangunan.


Dalam laporan kegiatan, Ari Rumainum menyampaikan bahwa forum ini merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah dalam merumuskan pendekatan operasional promosi dan konseling kesehatan reproduksi yang lebih relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Papua Tengah. Ia menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya bertumpu pada aspek medis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai adat, norma sosial, dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini bertujuan menyusun strategi operasional promosi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat, sekaligus mengembangkan metode konseling yang menghargai adat istiadat dan nilai lokal,” ujarnya.


Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi kunci dalam meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program kesehatan reproduksi. Hal ini sekaligus menjadi fondasi untuk menciptakan layanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata di lapangan.
Selain penyusunan strategi, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, kader, serta pemangku kepentingan lainnya. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan reproduksi dapat diberikan secara lebih sensitif terhadap budaya serta mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil.


Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala DP3AKB Papua Tengah, Agustinus Bagau, menegaskan bahwa kesehatan reproduksi merupakan isu fundamental yang tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyangkut martabat manusia dan kualitas generasi masa depan.
Ia menggambarkan Papua Tengah sebagai wilayah yang kaya akan budaya, mulai dari Nabire, Timika, hingga kabupaten lain seperti Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Namun di balik kekayaan tersebut, masih terdapat tantangan besar, khususnya dalam menjamin kesehatan ibu dan anak.
“Kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan teknis medis. Ini tentang memastikan setiap ibu dapat melahirkan dengan aman, dan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan optimal,” tegasnya.


Agustinus juga menyoroti masih rendahnya penggunaan kontrasepsi modern di sejumlah wilayah Papua Tengah. Ia mengakui bahwa berbagai hambatan seperti stigma sosial dan rasa takut masih menjadi faktor penghambat di masyarakat. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya pendekatan komunikasi yang lebih humanis dan berbasis budaya.
“Program keluarga berencana bukan untuk membatasi kelahiran, tetapi untuk memastikan kualitas hidup keluarga yang lebih baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok prioritas yang dikenal dengan istilah 3B, yaitu bayi, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia mendorong adanya sistem pendataan yang lebih akurat dan terintegrasi agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.
Dalam kesempatan tersebut, Agustinus juga mengungkapkan rencana pengembangan inovasi berbasis data guna meningkatkan akurasi identifikasi kasus stunting. Ia menilai selama ini masih terjadi kekeliruan dalam pengelompokan kondisi gizi, seperti antara gizi buruk, gizi kurang, dan stunting.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan data statis. Diperlukan analisis yang lebih mendalam melalui survei dan penelitian agar penanganan stunting tepat sasaran,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran tenaga kesehatan seperti bidan dan dokter, serta dukungan dari tokoh adat dan agama dalam menyukseskan program kesehatan reproduksi.
Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk membangun komitmen bersama antar berbagai pihak dalam memperkuat sistem kesehatan reproduksi di Papua Tengah. Melalui sinergi yang kuat, diharapkan layanan kesehatan yang diberikan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai budaya lokal.
Dengan demikian, program kesehatan reproduksi di Papua Tengah diharapkan mampu menjawab tantangan yang ada sekaligus menciptakan generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing di masa depan. (red-enagoNews)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Berita Daerah

Kepala Dinas BKKBN Papua Tekankan Pentingnya Transformasi Program Keluarga Berencana Berbasis Kualitas SDM

Published

on


Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Kepala Dinas BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya transformasi program keluarga berencana (KB) dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), saat memberikan sambutan pada kegiatan Pengembangan Strategi Nasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi berbasis kearifan lokal, Kamis (30/4/2026) di Hotel Carmel Nabire.
Dalam sambutannya, Sarles Brabar mengapresiasi perubahan kelembagaan yang kini menjadikan urusan keluarga berencana berada dalam dinas tersendiri yang terintegrasi dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Menurutnya, hal ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fokus program pembangunan keluarga di daerah.


Ia juga menyoroti perjalanan panjang transformasi BKKBN, yang kini berkembang menjadi bagian dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Perubahan ini, kata dia, menandai pergeseran paradigma dari sekadar pengendalian jumlah penduduk menuju pembangunan keluarga yang berkualitas.
“Selama ini masih ada anggapan bahwa program KB hanya soal pembatasan jumlah anak. Padahal, esensi keluarga berencana adalah bagaimana setiap keluarga memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera,” ujarnya.
Sarles menjelaskan bahwa tantangan di wilayah Papua seringkali diwarnai persepsi bahwa program KB tidak terlalu diperlukan karena luas wilayah dan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut perlu diluruskan.
“Program KB bukan tentang membatasi, tetapi bagaimana membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan memiliki masa depan yang jelas,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan pentingnya program ini dengan visi nasional dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Salah satu fokus utama adalah memastikan kualitas kehidupan sejak awal, yakni melalui perhatian pada 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak usia dini.


Menurutnya, pembangunan keluarga harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, dimulai dari masa kandungan hingga lanjut usia. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang kini memberikan perhatian khusus pada siklus kehidupan keluarga secara utuh.
“Kita harus mulai dari kandungan, memastikan kesehatan ibu dan anak, hingga mendampingi keluarga sampai usia lanjut. Di sinilah peran negara hadir untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan perhatian yang optimal,” jelasnya.


Sarles juga berbagi pengalamannya selama bertugas di berbagai provinsi, seperti Papua Barat, Maluku, dan Bali, yang menurutnya memberikan banyak pembelajaran dalam mengembangkan program keluarga berencana sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam merumuskan strategi promosi dan konseling kesehatan reproduksi yang tidak hanya efektif, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Papua Tengah. (red-enagoNews)

Continue Reading

Berita Daerah

Pangdam III SIiliwangi Menerima Audiensi Dengan Resimen Mahasiswa Mahawarman

Published

on

BANDUNG-Panglima Kodam III/SLW, Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., menerima audiensi dari Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat yang dipimpin Danmenwa Mahawarman. Panglima Kodam III/SLW didampingi Asintel Kasdam III/ SLW, Asops Kasdam III/SLW, Aster Kasdam III/ SLW, dan Kapendam III/SLW. Sementara Komandan Menwa Mahawarman Jabar didampingi Wadanmenwa Mahawarman, Aspers Kasmenwa Mahawarman, Staf Ahli Danmenwa Bid Bin Organik dan Ajudan Danmenwa Mahawarman.

Audiensi tersebut diterima diruang kerja Panglima Kodam III/SLW dengan penuh keakraban dan suasana kekeluargaan. Diawal pembicaraannya Kosasih, menyampaikan selamat datang kepada Danmenwa Mahawarman beserta rombongan di Makodam III/SLW dan mempersilahkan kepada Danmen Mahawarman Jawa Barat menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan dalam audiensi dimaksud.

Ali Budiman Danmenwa Mahawarman memulai pembicaraan dengan memperkenalkan peserta audiensi Menwa Mahawarman Jawa Barat yang hadir dalam audiensi tersebut. Selain itu Danmenwa menyampaikan selayang pandang tentang keberadaan Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat dan lebih penting lagi adalah permohonan untuk kerjasama antara Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat dengan Kodam III/SLW, untuk rencana gelar pasukan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat ke-67 dan akan diselenggarakan di Kodam III/SLW serta dukungan untuk rencana penyelenggaraan Latihan Dasar Kemiliteran Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat Tahun 2026.

Setelah Danmenwa menyampaikan maksud dan tujuan audiensi secara gamblang, Kosasih memberi respon maksud dan tujuan audiensi tersebut. Di awal responnya Pangdam III/Siliwangi mendukung Kerjasama antara Resimen Mahasiswa Mahawarman dengan Kodam III/Siliwangi, terutama terkait rencana gelar pasukan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat ke-67 didukung penuh oleh Pangdam III/Siliwangi, dan bahkan Panglima Kodam/SLW mempersilahkan dan mengajak Menwa Mahawarman pelaksanaan gelar pasukan tersebut diselenggarakan di Lapangan Serka Dedi Unadi, Makodam III/SLW dengan gratis dan juga menyampaikan bahwa penggunaan Lapangan Serka Dedi Unadi terbuka untuk umum digunakan.

Lebih lanjut Pangdam III/SLW menyampaikan dukungannya atas rencana pelaksanaan atau penyelenggaraan Latihan Dasar Kemiliteran Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat Tahun 2026 dan menugaskan kepada Aster Kasdam III/SLW untuk mengkoordinasikan secara intens kepada Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat dan begitu juga sebaliknya diharapkan Resimen Mahasiswa Mahawarman berkoordinasi lewat Aster Kasdam III/SLW atas pelaksanaan kegiatan dimaksud.

Secara umum tugas Resimen Mahasiswa (Menwa) adalah sebagai komponen cadangan pertahanan negara yang dilatih secara militer, dan bertujuan untuk membantu pertahanan keamanan negara, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menwa juga berperan dalam pengamanan kampus, disiplin anggota, bela negara, serta sosial kemasyarakatan. Selain itu Menwa dibentuk untuk mewadahi mahasiswa dalam bela negara, kepemimpinan, dan pelatihan dasar militer (seperti penggunaan senjata dan taktik).

Diakhir audiensi, Kosasih mempersilahkan untuk menikmati kopi khusus Panglima Kodam III/SLW, “KOPI SANGER” (saling mengerti) sambil ngobrol lepas dan sekali-kali melepaskan candaan diantara para peserta audiensi. Audiensi diakhiri dengan foto bersama dan Kosasih berpesan untuk senantiasa menjalin silaturahmi, menjaga persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. (red-enagoNews)

Martika Edison, Jurnalis Media Indonesia Kota Bandung/ Media-Jabar.net/ MediaSaksi/ Respublika Indonesia/ Gala Madiri News/Siliwangi News/ Tabloid Indonesia Indonesia.online

Continue Reading

Berita Daerah

TNI Netralisir Pimpinan OPM Kodap 18 Ilaga, TNI Tegaskan Komitmen Jaga Keamanan dan Lindungi Warga Papua

Published

on


Puncak, Papua Tengah –enagoNews – TNI melalui Komando Operasi TNI Habema (Koops TNI Habema) berhasil menetralisir Jeki Murib, yang diketahui menjabat sebagai Danops Kepala Air OPM Kodap 18 Ilaga. Penindakan tersebut dilakukan di Kampung Pinapa, Distrik Omukia, pada 20 April 2026.
Hal ini disampaikan oleh Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, S.H., M.Si., dalam keterangan resminya. Ia menjelaskan bahwa Jeki Murib merupakan salah satu tokoh kelompok separatis bersenjata yang selama ini aktif melakukan berbagai aksi kekerasan di wilayah Kabupaten Puncak dan Mimika. Selain itu, kelompok yang dipimpinnya juga kerap mengganggu objek vital nasional, termasuk aktivitas di lingkungan PT Freeport Indonesia.
Menurut data yang dihimpun, Jeki Murib terlibat dalam sejumlah aksi kriminal bersenjata yang berdampak luas terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Beberapa di antaranya adalah pembakaran kompleks tower di Kampung Kago, Distrik Ilaga pada 15 Agustus 2023, serta pembunuhan dan penganiayaan terhadap pekerja pembangunan puskesmas di Kampung Eromaga, Distrik Omukia pada 19 Oktober 2023.
Selain itu, yang bersangkutan juga diduga terlibat dalam aksi penembakan di Bandara Aminggaru pada 18 Juni 2025, penyanderaan terhadap 18 karyawan PT Freeport Indonesia di Tower 270 Distrik Tembagapura pada 8 Januari 2026, hingga penyerangan dan perampasan senjata terhadap anggota Koramil Tembagapura pada 11 Februari 2026.
Tidak hanya itu, pada 11 Maret 2026, kelompok ini juga melakukan penembakan terhadap dua karyawan PT Freeport Indonesia di area Grasberg serta menyerang aparat kepolisian yang tengah melakukan proses evakuasi korban.
Serangkaian aksi tersebut dinilai telah menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi, khususnya di wilayah Papua Tengah. Kondisi ini juga berdampak pada terhambatnya pembangunan serta stabilitas keamanan di daerah tersebut.
Lebih lanjut, Letkol Wirya menegaskan bahwa penindakan terhadap kelompok separatis bersenjata merupakan bagian dari pelaksanaan tugas TNI dalam kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025, khususnya Pasal 7 ayat (2) huruf B poin 1 dan 2 yang menegaskan peran TNI dalam mengatasi gerakan separatis bersenjata dan pemberontakan bersenjata.
Langkah tersebut juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 yang menekankan pendekatan terpadu antara aspek keamanan dan kesejahteraan, dengan prioritas utama pada perlindungan masyarakat serta percepatan pembangunan di Papua.
Dalam pelaksanaannya, operasi dilakukan secara terukur, profesional, dan humanis dengan tetap mengedepankan keselamatan masyarakat sipil. TNI juga memastikan bahwa seluruh tindakan didukung oleh sinergi bersama tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.
Di akhir pernyataannya, TNI kembali mengajak anggota kelompok bersenjata yang masih berada di hutan untuk menghentikan aksi kekerasan. Mereka diimbau untuk kembali ke tengah masyarakat, meninggalkan jalan separatisme, serta bersama-sama membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera. (red-enagoNews)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 ENAGONEWS.COM