Connect with us
Advertisements

Berita Daerah

Debut Bersejarah SD YPPK St. Yusup Kugapa Tampil di Hardiknas 2026 Paniai

Published

on


PANIAI, PAPUA TENGAH– enagoNews – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momen bersejarah bagi SD YPPK St. Yusup Kugapa, Distrik Bibida. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, sekolah tersebut ambil bagian secara aktif dalam rangkaian kegiatan tingkat Kabupaten Paniai yang dipusatkan di halaman Kantor Bupati, Jumat (1/5/2026).


Partisipasi ini menjadi bukti perkembangan signifikan sekolah di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Helena F. Kloatubun, S.Ag., Gr., yang mulai menjabat sejak 26 Januari 2026 berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai.
Tak hanya ikut serta, SD YPPK St. Yusup Kugapa juga mencatat prestasi membanggakan. Sekolah ini terpilih sebagai satu dari enam sekolah yang mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas VI dari total 85 sekolah dasar di Paniai. Selain itu, mereka juga dipercaya menjadi salah satu dari 20 sekolah yang tampil dalam defile Hardiknas.


“Ini adalah pengalaman pertama bagi kami dilibatkan dalam kegiatan tingkat kabupaten. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan Bupati Paniai,” ujar Helena.
Dalam penampilan defile, para siswa tampil memukau dengan mengangkat kekayaan budaya Suku Moni. Mereka memadukan senam khas sekolah dengan tarian Waiteya serta membawakan lagu-lagu Weyane, yang berhasil menarik perhatian para peserta dan tamu undangan.
Helena menyampaikan apresiasi kepada para guru yang telah bekerja keras membimbing siswa hingga mampu tampil maksimal. Ia berharap momentum ini menjadi titik awal kebangkitan pendidikan di Distrik Bibida.


“Kami berharap ke depan anak-anak semakin semangat belajar. Dukungan guru, orang tua, dan pembinaan dari dinas pendidikan sangat penting agar sekolah ini terus berkembang,” tambahnya.


Ia juga mengajak para orang tua untuk lebih aktif mendorong anak-anak bersekolah, demi mencetak generasi muda Suku Moni yang cerdas dan siap membangun daerah.
Di akhir pernyataannya, Helena turut menyampaikan terima kasih kepada Bupati Paniai serta pihak PSW YPPK Paniai yang telah mendukung dan mempercayakan dirinya memimpin SD YPPK St. Yusup Kugapa.


Momentum Hardiknas 2026 ini pun menjadi tonggak awal bagi sekolah tersebut untuk terus berbenah dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan di wilayah pedalaman Paniai. (red–enagoNews)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Berita Daerah

Dorong SDM Unggul, Bibida Fokus Bangun Generasi Moni Migani Sehat dan Cerdas

Published

on


BiBIDA – enagoNews – Pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Distrik Bibida terus menjadi perhatian utama, khususnya dalam mencetak generasi muda Suku Moni Migani yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan. Upaya ini menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua, tenaga pendidik, dan pemerintah dalam mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.Kepala Sekolah SD YPPK St. Yusup Kugapa, Helena F. Kloatubun, S.Ag., Gr., menegaskan bahwa kesehatan dan pendidikan merupakan dua pilar utama yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk generasi berkualitas. Sejak menjabat pada 26 Januari 2026, ia активно mendorong kesadaran bersama akan pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik dan perkembangan belajar anak-anak di Bibida.


Menurutnya, anak-anak yang sehat akan lebih optimal dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk memastikan kebutuhan dasar anak, terutama kesehatan, terpenuhi dengan baik.
“Saya mengharapkan peran aktif orang tua dalam menjaga kesehatan anak-anak. Dengan tubuh yang sehat, mereka bisa mengikuti pelajaran dengan maksimal dan meraih prestasi,” ujarnya.


Selain itu, Helena juga menyoroti pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas harian anak, khususnya terkait kedisiplinan bersekolah. Ia menekankan agar orang tua memastikan anak-anak berangkat dan pulang sekolah tepat waktu, sehingga mereka tetap fokus pada pendidikan.


Langkah ini diyakini mampu membentuk karakter serta meningkatkan kualitas akademik generasi muda Moni Migani. Dengan bekal pendidikan yang baik, anak-anak diharapkan tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga memiliki kesadaran untuk kembali membangun daerah asal mereka.


“Harapan kami, mereka menjadi generasi yang berpendidikan, mandiri, dan suatu saat kembali untuk membangun Tanah Moni Migani,” tutupnya.


Melalui komitmen bersama ini, Distrik Bibida optimistis dapat melahirkan generasi emas yang menjadi motor penggerak kemajuan daerah di masa mendatang. (red-enagoNews)

Continue Reading

Berita Daerah

Kepala Dinas BKKBN Papua Tekankan Pentingnya Transformasi Program Keluarga Berencana Berbasis Kualitas SDM

Published

on


Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Kepala Dinas BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya transformasi program keluarga berencana (KB) dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), saat memberikan sambutan pada kegiatan Pengembangan Strategi Nasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi berbasis kearifan lokal, Kamis (30/4/2026) di Hotel Carmel Nabire.
Dalam sambutannya, Sarles Brabar mengapresiasi perubahan kelembagaan yang kini menjadikan urusan keluarga berencana berada dalam dinas tersendiri yang terintegrasi dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Menurutnya, hal ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fokus program pembangunan keluarga di daerah.


Ia juga menyoroti perjalanan panjang transformasi BKKBN, yang kini berkembang menjadi bagian dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Perubahan ini, kata dia, menandai pergeseran paradigma dari sekadar pengendalian jumlah penduduk menuju pembangunan keluarga yang berkualitas.
“Selama ini masih ada anggapan bahwa program KB hanya soal pembatasan jumlah anak. Padahal, esensi keluarga berencana adalah bagaimana setiap keluarga memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera,” ujarnya.
Sarles menjelaskan bahwa tantangan di wilayah Papua seringkali diwarnai persepsi bahwa program KB tidak terlalu diperlukan karena luas wilayah dan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut perlu diluruskan.
“Program KB bukan tentang membatasi, tetapi bagaimana membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan memiliki masa depan yang jelas,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan pentingnya program ini dengan visi nasional dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Salah satu fokus utama adalah memastikan kualitas kehidupan sejak awal, yakni melalui perhatian pada 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak usia dini.


Menurutnya, pembangunan keluarga harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, dimulai dari masa kandungan hingga lanjut usia. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang kini memberikan perhatian khusus pada siklus kehidupan keluarga secara utuh.
“Kita harus mulai dari kandungan, memastikan kesehatan ibu dan anak, hingga mendampingi keluarga sampai usia lanjut. Di sinilah peran negara hadir untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan perhatian yang optimal,” jelasnya.


Sarles juga berbagi pengalamannya selama bertugas di berbagai provinsi, seperti Papua Barat, Maluku, dan Bali, yang menurutnya memberikan banyak pembelajaran dalam mengembangkan program keluarga berencana sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam merumuskan strategi promosi dan konseling kesehatan reproduksi yang tidak hanya efektif, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Papua Tengah. (red-enagoNews)

Continue Reading

Berita Daerah

Strategi Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Berbasis Kearifan Lokal Digelar di Nabire

Published

on


Nabire, Papua Tengah – enagoNews –
Upaya penguatan layanan kesehatan reproduksi yang lebih efektif dan kontekstual terus didorong pemerintah melalui pendekatan berbasis budaya lokal. Hal ini tercermin dalam kegiatan Pengembangan Strategi Nasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Berbasis Kearifan Lokal yang digelar di Hotel Carmel, Nabire, Kamis (30/4/2026).


Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua Tengah Agustinus Bagau, SKM., M.Kes tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, S.E., M.Si, serta perwakilan Dinas DP3AKB dari delapan kabupaten di Papua Tengah. Turut hadir pula berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh agama, hingga perwakilan masyarakat dan mitra pembangunan.


Dalam laporan kegiatan, Ari Rumainum menyampaikan bahwa forum ini merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah dalam merumuskan pendekatan operasional promosi dan konseling kesehatan reproduksi yang lebih relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Papua Tengah. Ia menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya bertumpu pada aspek medis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai adat, norma sosial, dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini bertujuan menyusun strategi operasional promosi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat, sekaligus mengembangkan metode konseling yang menghargai adat istiadat dan nilai lokal,” ujarnya.


Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi kunci dalam meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program kesehatan reproduksi. Hal ini sekaligus menjadi fondasi untuk menciptakan layanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata di lapangan.
Selain penyusunan strategi, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, kader, serta pemangku kepentingan lainnya. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan reproduksi dapat diberikan secara lebih sensitif terhadap budaya serta mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil.


Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala DP3AKB Papua Tengah, Agustinus Bagau, menegaskan bahwa kesehatan reproduksi merupakan isu fundamental yang tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyangkut martabat manusia dan kualitas generasi masa depan.
Ia menggambarkan Papua Tengah sebagai wilayah yang kaya akan budaya, mulai dari Nabire, Timika, hingga kabupaten lain seperti Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Namun di balik kekayaan tersebut, masih terdapat tantangan besar, khususnya dalam menjamin kesehatan ibu dan anak.
“Kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan teknis medis. Ini tentang memastikan setiap ibu dapat melahirkan dengan aman, dan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan optimal,” tegasnya.


Agustinus juga menyoroti masih rendahnya penggunaan kontrasepsi modern di sejumlah wilayah Papua Tengah. Ia mengakui bahwa berbagai hambatan seperti stigma sosial dan rasa takut masih menjadi faktor penghambat di masyarakat. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya pendekatan komunikasi yang lebih humanis dan berbasis budaya.
“Program keluarga berencana bukan untuk membatasi kelahiran, tetapi untuk memastikan kualitas hidup keluarga yang lebih baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok prioritas yang dikenal dengan istilah 3B, yaitu bayi, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia mendorong adanya sistem pendataan yang lebih akurat dan terintegrasi agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.
Dalam kesempatan tersebut, Agustinus juga mengungkapkan rencana pengembangan inovasi berbasis data guna meningkatkan akurasi identifikasi kasus stunting. Ia menilai selama ini masih terjadi kekeliruan dalam pengelompokan kondisi gizi, seperti antara gizi buruk, gizi kurang, dan stunting.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan data statis. Diperlukan analisis yang lebih mendalam melalui survei dan penelitian agar penanganan stunting tepat sasaran,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran tenaga kesehatan seperti bidan dan dokter, serta dukungan dari tokoh adat dan agama dalam menyukseskan program kesehatan reproduksi.
Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk membangun komitmen bersama antar berbagai pihak dalam memperkuat sistem kesehatan reproduksi di Papua Tengah. Melalui sinergi yang kuat, diharapkan layanan kesehatan yang diberikan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai budaya lokal.
Dengan demikian, program kesehatan reproduksi di Papua Tengah diharapkan mampu menjawab tantangan yang ada sekaligus menciptakan generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing di masa depan. (red-enagoNews)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 ENAGONEWS.COM