Connect with us
Advertisements

Berita Daerah

Diduga Keracunan Makanan MBG di Distrik Teluk Kimi, 7 Orang Dirawat

Published

on

Nabire — enagoNews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lani di Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, diduga mengalami permasalahan pada kandungan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat. Akibat kejadian tersebut, tujuh orang yang terdiri dari 3 orang guru dan 4 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dan harus menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di Nabire.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, satu orang pasien dirawat di RSUD Nabire, satu orang lainnya menjalani perawatan di Klinik Gresli, sementara lima orang lainnya dirawat di Klinik Rihensha. Para pasien dilaporkan mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut, di antaranya diare, muntah, serta pusing.


Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marcel Asyerem, menjelaskan bahwa layanan MBG di Kampung Lani mulai berjalan pada Rabu. Pada hari yang sama, sejumlah guru dari beberapa sekolah yang menerima layanan program tersebut mulai merasakan gejala gangguan kesehatan.
Namun pada awalnya, para guru tidak langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak penyelenggara program. Mereka khawatir laporan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap program MBG yang saat ini melayani banyak sekolah di wilayah tersebut.
SPPG Lani sendiri diketahui melayani sekitar 17 sekolah dengan total kurang lebih 1.892 penerima manfaat yang terdiri dari siswa dan guru. Dengan cakupan layanan yang cukup luas tersebut, informasi mengenai keluhan kesehatan baru diketahui setelah beberapa pasien mendatangi fasilitas kesehatan secara terpisah.
Hasil pemeriksaan awal oleh tenaga medis menunjukkan bahwa seluruh pasien mengalami gejala yang relatif sama, yakni diare, muntah, dan pusing. Dokter yang menangani pasien menyampaikan bahwa diagnosis sementara mengarah pada kemungkinan adanya bakteri yang memengaruhi sistem imun tubuh. Meski demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Proses pemeriksaan medis secara menyeluruh belum dapat dilakukan segera karena pada saat kejadian beberapa tenaga laboratorium sedang libur. Untuk sementara, penanganan medis difokuskan pada pencegahan dehidrasi serta stabilisasi kondisi pasien.
Sementara itu, menu makanan MBG yang disajikan pada hari kejadian diketahui terdiri dari nasi putih, telur ceplok, sayuran, serta saus sebagai pelengkap. Berdasarkan konsultasi awal dengan dokter, makanan pokok seperti nasi, telur, dan sayuran dinilai kecil kemungkinan menjadi penyebab utama gangguan kesehatan tersebut.

Dikatakan Marcel Asyerem, dugaan sementara justru mengarah pada saus yang digunakan sebagai pelengkap makanan, yang kemungkinan mengalami kontaminasi bakteri. Meski demikian, pihak penyelenggara menegaskan bahwa dugaan tersebut masih bersifat sementara dan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Dalam prosedur operasional program MBG, setiap dapur penyedia makanan sebenarnya diwajibkan menyimpan sampel makanan sebagai bahan uji apabila terjadi keluhan kesehatan. Sampel tersebut biasanya disimpan dalam jangka waktu tertentu untuk keperluan pemeriksaan.
Namun dalam kasus ini terdapat kendala, karena keluhan baru diketahui dua hari setelah makanan dikonsumsi. Pada saat itu, sampel makanan yang disimpan telah melewati masa penyimpanan dan sudah diganti dengan sampel baru, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk pemeriksaan laboratorium.
Kondisi tersebut membuat pembuktian penyebab gangguan kesehatan menjadi lebih sulit dan kemungkinan akan dilakukan melalui metode lain, seperti pemeriksaan cairan muntah atau analisis medis lanjutan terhadap pasien.
Selain dugaan kontaminasi bahan makanan, pihak SPPG juga menyoroti sejumlah faktor lain yang berpotensi memengaruhi kejadian tersebut. Di antaranya kebiasaan sebagian penerima manfaat yang membawa pulang makanan untuk dikonsumsi di rumah, padahal program MBG sebenarnya melarang makanan basah dibawa pulang karena berisiko cepat basi.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah keterlambatan konsumsi makanan. Makanan MBG biasanya mulai dimasak sejak pukul 04.00 hingga 06.00 pagi. Jika makanan dikonsumsi terlalu lama setelah waktu penyajian, kualitasnya berpotensi menurun.
Selain itu, tenaga medis juga menjelaskan bahwa reaksi tubuh terhadap bakteri dapat berbeda pada setiap individu. Hal ini menyebabkan tidak semua orang yang mengonsumsi makanan yang sama mengalami gejala yang serupa.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak Badan Gizi Nasional bersama pengelola SPPG Lani menyatakan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan dan distribusi makanan dalam program MBG.
Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain memperketat pengawasan higienitas dapur, mengevaluasi penggunaan bahan tambahan seperti saus, meningkatkan koordinasi dengan pihak sekolah melalui petugas penanggung jawab atau PIC MBG, serta memperbaiki sistem pelaporan apabila ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi.
Dalam mekanisme program MBG, setiap sekolah memiliki PIC yang bertugas mengawasi distribusi makanan. Jika ditemukan makanan yang tidak layak, PIC sekolah diwajibkan mendokumentasikan kondisi makanan tersebut, kemudian mengirimkan laporan beserta foto kepada dapur penyedia makanan.
Dapur penyedia selanjutnya berkewajiban mengganti makanan dengan jenis yang sama dalam kondisi yang layak konsumsi. Sistem ini diterapkan agar penanganan masalah dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Kasus dugaan gangguan kesehatan yang terjadi di SPPG Lani menjadi pengingat penting bagi penyelenggara program gizi berskala besar untuk terus meningkatkan pengawasan kualitas makanan, distribusi, serta sistem pelaporan di lapangan.
Meski penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan, pihak Badan Gizi Nasional memastikan bahwa seluruh pasien akan mendapatkan perawatan hingga pulih sepenuhnya. Evaluasi terhadap sistem pelayanan MBG juga akan terus dilakukan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. (red-enagoNews)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Berita Daerah

Wabup Nabire Tegur OPD dan Distrik yang Absen dalam Monev, Tekankan Pentingnya Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan

Published

on


NABIRE, Papua Tengah – enagoNews – Wakil Bupati Nabire, H. Burhanudin Parenwari, memberikan perhatian serius terhadap tingkat kehadiran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan distrik dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Meja I Kegiatan Pembangunan Kabupaten Nabire Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Bapperida Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026).
Dalam kegiatan yang membahas capaian pembangunan periode Januari hingga Mei 2026 tersebut, Wakil Bupati secara langsung melakukan absensi terhadap seluruh peserta yang diundang. Dari total 33 OPD dan 15 distrik yang seharusnya hadir, diketahui masih terdapat sejumlah OPD dan distrik yang tidak mengikuti kegiatan tersebut.
Kondisi itu mendapat perhatian khusus dari Wakil Bupati. Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan agenda yang sangat penting karena menjadi bagian dari proses perencanaan, pengawasan, sekaligus perbaikan pelaksanaan program pembangunan daerah.


“Kegiatan ini sangat penting, bahkan lebih penting dari kegiatan-kegiatan lainnya, karena ini adalah kegiatan monitoring dan evaluasi. Dari sinilah kita mengetahui sejauh mana program berjalan dan apa saja yang perlu diperbaiki,” tegas Burhanudin Parenwari di hadapan peserta kegiatan.
Ia menekankan bahwa pembangunan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya perencanaan yang matang dan evaluasi yang berkelanjutan. Karena itu, seluruh perangkat daerah diharapkan memiliki komitmen yang sama untuk hadir dan terlibat aktif dalam setiap forum evaluasi pembangunan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
“Ini adalah kegiatan perencanaan. Bagaimana kita bisa bekerja tanpa ada perencanaan, dan bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan tanpa adanya evaluasi,” ujarnya.
Meski menyampaikan teguran kepada OPD dan distrik yang tidak hadir, Wakil Bupati belum mengungkapkan adanya sanksi khusus. Namun, sebagai bentuk pengawasan dan transparansi, ia meminta agar daftar kehadiran peserta diunggah ke dalam grup resmi Pemerintah Kabupaten Nabire sehingga dapat diketahui secara terbuka perangkat daerah mana yang hadir maupun yang tidak hadir.
“Nanti daftar kehadiran saya minta dimasukkan ke grup, sehingga kita bisa mengetahui OPD dan distrik mana yang hadir dan mana yang tidak hadir,” pintanya.


Lebih lanjut, Burhanudin Parenwari berharap kegiatan Monitoring dan Evaluasi Meja I tidak hanya menjadi agenda rutin atau sekadar formalitas pelaporan administrasi. Menurutnya, forum tersebut harus mampu menjadi wahana evaluasi yang efektif dalam meningkatkan kualitas kinerja perangkat daerah.
Ia menegaskan bahwa hasil evaluasi harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah perbaikan yang nyata sehingga pelaksanaan program pembangunan dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Melalui kegiatan Monev ini, saya berharap tidak hanya menjadi formalitas pelaporan semata, tetapi benar-benar menjadi sarana evaluasi dan perbaikan kinerja seluruh perangkat daerah guna mempercepat pencapaian visi pembangunan Kabupaten Nabire, yaitu terwujudnya Nabire yang aman, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan,” katanya.


Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati juga mengingatkan seluruh OPD agar senantiasa menjaga akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran daerah. Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi administrasi maupun manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
“Setiap anggaran yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara substantif, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Nabire,” tegasnya.


Selain membahas pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan anggaran, Wakil Bupati juga menyinggung kedisiplinan aparatur sipil negara terkait penggunaan pakaian dinas. Ia mengingatkan seluruh peserta agar menggunakan seragam Korpri yang berlaku sesuai ketentuan dalam setiap kegiatan resmi pemerintah daerah.
“Saya harap pada kegiatan-kegiatan ke depan semuanya menggunakan seragam Korpri yang berlaku saat ini,” pungkasnya.
Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Meja I tersebut menjadi bagian penting dalam upaya Pemerintah Kabupaten Nabire memastikan seluruh program pembangunan berjalan sesuai target, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi, disiplin, dan tanggung jawab seluruh perangkat daerah dalam mewujudkan pembangunan yang lebih baik bagi masyarakat. (red-enagoNews)

Continue Reading

Berita Daerah

Kapolda Papua Tengah Perkuat Sinergitas dan Keamanan Jelang HUT Bhayangkara ke-80Bangun Kebersamaan dengan Tokoh Agama, Adat, dan Masyarakat

Published

on


NABIRE, PAPUA TENGAH-enagoNews – Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, menegaskan pentingnya membangun sinergitas antara kepolisian dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Papua Tengah.
Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai sejumlah wartawan dari berbagai media usai kegiatan silaturahmi bersama tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat di Rumah Makan Sari Kuring, Nabire, Kamis (11/6/2026).
Menurut Kapolda, forum tersebut menjadi sarana untuk menyerap aspirasi dan masukan dari masyarakat guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif, khususnya di Kabupaten Nabire dan delapan kabupaten di wilayah Papua Tengah.
“Kita bersilaturahmi dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk membangun sinergitas serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif di Papua Tengah. Kegiatan seperti ini juga akan kita dorong dilaksanakan di masing-masing Polres agar dapat menyerap masukan masyarakat melalui forum diskusi,” ujarnya.
Situasi Dogiyai Berangsur Pulih, Pengamanan Tetap Diperkuat
Terkait insiden yang terjadi di Kabupaten Dogiyai beberapa waktu lalu, Kapolda menjelaskan bahwa personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) yang diterjunkan ke wilayah tersebut masih diperpanjang masa tugasnya hingga Juli 2026.
Menurutnya, kondisi keamanan di Dogiyai menunjukkan perkembangan positif dan perlahan mulai pulih berkat berbagai kegiatan kepolisian yang terus dilakukan, seperti patroli dan pendekatan kepada masyarakat.
“Dogiyai tidak akan kita biarkan. Situasi di sana perlahan mulai pulih dengan berbagai kegiatan kepolisian yang kita lakukan. Untuk personel BKO masih diperpanjang sampai Juli, dan setelah itu akan kita evaluasi kembali apakah masih diperlukan atau tidak,” jelasnya.
Kapolda menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan langkah-langkah pengamanan guna memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman.
Soroti Pentingnya Kehadiran Bank Darah di Papua Tengah
Dalam rangkaian kegiatan menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda juga menyinggung pelaksanaan kegiatan donor darah yang selama ini terkendala oleh belum tersedianya fasilitas bank darah di wilayah Papua Tengah.
Ia mengungkapkan bahwa donor darah sebenarnya menjadi salah satu kegiatan sosial yang rutin dilakukan Polri. Namun, tanpa adanya fasilitas penyimpanan darah yang memadai, darah yang telah didonorkan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kendala kita adalah belum adanya bank darah. Kalau donor darah dilakukan, darah itu mau disimpan di mana? Ini yang perlu dipikirkan bersama. Saya mendorong pemerintah maupun pihak-pihak yang peduli untuk menghadirkan bank darah sehingga darah yang didonorkan dapat disimpan dan dimanfaatkan saat masyarakat membutuhkannya,” katanya.
Menurut Kapolda, keberadaan bank darah akan sangat membantu pelayanan kesehatan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat yang membutuhkan transfusi darah secara cepat.
Bantuan Sosial untuk Perkuat Hubungan Polisi dan Masyarakat
Selain kegiatan donor darah, Polri juga melaksanakan berbagai kegiatan bantuan sosial sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
Kapolda berharap bantuan sosial yang diberikan dapat mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.
“Harapan kami, penerima bantuan sosial dapat bersama-sama mendukung tugas kepolisian dalam menjaga situasi yang aman dan kondusif. Dengan keamanan yang terjaga, masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman,” ungkapnya.
Pasar Dipilih sebagai Pusat Kegiatan Sosial
Kapolda menjelaskan bahwa pasar menjadi salah satu lokasi yang diprioritaskan dalam pelaksanaan kegiatan sosial karena merupakan tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, pasar menjadi ruang interaksi yang paling terbuka dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun kelompok tertentu.
“Pasar menjadi tempat yang paling umum untuk berinteraksi. Semua unsur masyarakat ada di sana, sehingga kegiatan sosial yang dilakukan di pasar dapat dirasakan manfaatnya oleh lebih banyak warga,” tutup Kapolda. (red-enagoNews)

Continue Reading

Berita Daerah

Bimtek IGA 2026, Pemprov Papua Tengah Perkuat Kapasitas OPD dalam Pengelolaan Inovasi Daerah

Published

on

NABIRE, PAPUA TENGAH– enagoNews – Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus memperkuat budaya inovasi di lingkungan pemerintahan melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi Daerah dan Koordinasi Teknis Aplikasi Innovation Government Award (IGA) Tahun 2026. Kegiatan yang digelar oleh Bapperida Papua Tengah tersebut berlangsung di Guest House Nabire, Kamis (11/6/2026).


Mewakili Gubernur Papua Tengah, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, SDM dan Pengembangan Otonomi Khusus, Ukkas, S.Sos., M.KP, menegaskan bahwa inovasi menjadi kebutuhan penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks. Menurutnya, pemerintah daerah dituntut menghadirkan terobosan yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik serta mempercepat pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Innovation Government Award tidak hanya berorientasi pada penghargaan, tetapi juga menjadi sarana membangun budaya kerja yang kreatif, efektif, dan responsif di setiap perangkat daerah. Inovasi dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana, seperti penyederhanaan prosedur pelayanan, percepatan administrasi, hingga penguatan koordinasi antar-OPD.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung visi pembangunan Papua Tengah, yakni mewujudkan Papua Tengah Emas yang adil, berdaya saing, bermartabat, harmonis, maju, dan berkelanjutan. Karena itu, seluruh perangkat daerah diharapkan mampu menghadirkan inovasi yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan daerah.


Selain meningkatkan pemahaman teknis terkait aplikasi IGA, bimtek ini bertujuan memastikan setiap inovasi yang telah dilaksanakan oleh perangkat daerah dapat terdokumentasi dan terinput secara baik sesuai pedoman Kementerian Dalam Negeri. Dengan demikian, berbagai inovasi yang lahir dari daerah dapat terukur, terdokumentasi, dan memperoleh pengakuan dalam sistem penilaian nasional.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan pemahaman dalam pengelolaan data inovasi daerah, sehingga mampu mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang lebih modern, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. (red-enagoNews)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 ENAGONEWS.COM