“Empu dan Doa di Balik Nyala Api yang Tak Pernah Padam
Nabire, EnagoNews — Di balik nyala tungku yang memerah di malam hari, suara palu berpadu dengan bisikan doa. Seorang empu tua, bersarung dan berikat kepala, menatap bilah besi yang ditempanya dengan khidmat. Di tangannya, besi bukan sekadar logam — ia tengah melahirkan keris, pusaka yang menyimpan jiwa dan sejarah panjang peradaban Nusantara.
🔥 Dari Api dan Jiwa Empu
Keris dikenal sebagai senjata sekaligus pusaka yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam tradisi Jawa, Bali, Bugis, dan daerah lain di Nusantara, keris bukan sekadar benda, melainkan simbol jati diri, keberanian, dan keseimbangan hidup.
“Besi boleh sama, tapi jiwa empu-lah yang membuat keris berbeda,” ujar Mbah Seno (78), empu asal Tulungagung, yang telah lebih dari setengah abad menempa pusaka. Menurutnya, proses pembuatan keris selalu diawali dengan puasa, semedi, dan doa, sebab setiap ketukan palu bukan hanya membentuk logam, tapi juga membentuk batin.
🌙 Pamor: Wajah dan Watak Keris
Bagian paling menarik dari keris adalah pamor — guratan atau pola alami pada bilah yang muncul dari campuran besi, nikel, atau bahkan meteorit. Setiap pamor punya filsafat dan tuahnya sendiri:
Pamor Wos Wutah (butiran nasi tumpah): lambang rezeki yang mengalir tanpa henti.
Pamor Udan Mas (tetesan emas): dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran.
Pamor Ron Genduru (pola daun pandan): penolak bala dan pelindung pemilik.
Pamor Lar Geni (seperti nyala api): melambangkan semangat dan keberanian.
Menurut Empu Prawiro, pamor adalah “nafas” keris. “Kalau pamornya hidup, berarti doa dan niatnya bersih. Tapi kalau pamor mati, itu tanda hati pembuatnya keruh,” ujarnya sambil mengusap bilah yang baru selesai diasah.
⚖️ Filosofi dan Kehidupan
Selain pamor, lekukan (luk) pada keris juga memiliki makna spiritual. Keris lurus melambangkan keteguhan dan kestabilan, sementara keris berluk — tiga, lima, sembilan, hingga tiga belas — menggambarkan perjalanan manusia mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Filosofi ini hidup dalam keseharian masyarakat. Di banyak rumah Jawa, keris disimpan dengan penuh hormat dan dimandikan (dijamas) setiap bulan Suro. Upacara ini bukan ritual mistik, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai leluhur: penyucian diri dan pengingat keseimbangan batin.
🌾 Warisan Takbenda Dunia
UNESCO pada 25 November 2005 menetapkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda, mengakui keunikan perpaduan antara seni, spiritualitas, dan teknologi metalurgi tradisional Nusantara.
Namun di balik pengakuan dunia, para empu tetap bekerja dalam senyap. Di bengkel-bengkel kecil di Madura, Solo, hingga Sumenep, mereka masih menjaga nyala api dan doa, memastikan pamor-pamor kuno tetap berkilau di bilah-bilah baru.
“Keris bukan benda untuk disembah, tapi untuk dipahami,” ujar Mbah Seno menutup malam. “Ia mengajarkan manusia untuk tajam dalam pikir, tapi halus dalam hati.”
🕯️ Nilai yang Tak Lekang oleh Waktu
Kini, keris tak lagi menjadi senjata perang, melainkan lambang kehormatan, seni, dan filosofi hidup. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada ketajaman bilah, melainkan pada kejernihan jiwa pemiliknya.
Di bawah cahaya tungku yang perlahan meredup, empu tua itu kembali menunduk. Palunya berhenti, tapi api dalam dirinya tetap menyala. Di bilah yang dingin itu, terpahat sebuah pesan sunyi:
“Yang ditempa bukan hanya besi, tapi juga jiwa manusia.”
“Ketika Besi Berjiwa: Cerita di Balik Keris dan Pamornya” ing elsa
Di sebuah bengkel kecil di lereng Gunung Lawu, bau arang dan suara palu berpadu dengan lantunan doa. Seorang lelaki tua berikat kepala duduk bersila di depan tungku api. Tangannya hitam legam oleh jelaga, tapi matanya jernih dan tenang. Ia adalah empu, penjaga warisan berabad-abad: sang penempa keris — pusaka yang bukan sekadar besi, melainkan jiwa bangsa.
“Keris itu bukan senjata,” ujar sang empu lirih, “ia cermin diri manusia. Kalau hatimu keruh, pamornya tidak akan hidup.”
🔥 Dari Api dan Doa
Pembuatan keris tidak pernah semata urusan logam. Dalam setiap lipatan besi, ada doa yang diselipkan; dalam setiap hentakan palu, ada niat yang ditiupkan.
Prosesnya panjang: empu akan berpuasa, bertapa, dan memilih hari baik, sebelum menempa bilah keris. Logam nikel atau meteorit ditumbuk bersama besi hitam hingga menyatu. Dari perpaduan itulah lahir pamor — guratan berwarna perak keabu-abuan yang hidup di permukaan bilah.
Setiap pamor unik, seperti sidik jari manusia. Ada yang berpola seperti tetesan emas (Udan Mas), simbol kemakmuran; ada pula Wos Wutah, mirip butiran nasi yang tumpah, tanda rezeki yang tak putus. Bagi para empu, pamor bukan sekadar hiasan — ia adalah jiwa keris, manifestasi dari alam dan niat pembuatnya.
🌙 Roh dalam Bilah
Di banyak daerah di Nusantara, keris diyakini memiliki “isi”. Ia bisa bersifat halus, bisa pula keras. Karena itu, tidak semua orang boleh memiliki atau menaruhnya sembarangan. Sebelum diserahkan, empu biasanya akan membacakan doa dan mantra untuk “mengikat” energi keris dengan si pemilik.
Di rumah-rumah Jawa, keris sering disimpan dalam kotak kayu cendana atau warangka berselubung kain putih, lalu dimandikan setiap bulan Suro. Upacara ini disebut “Jamasan Keris” — simbol penyucian lahir dan batin, seperti manusia yang perlu kembali pada kesadaran diri.
“Kalau pamor kerisnya terang,” kata Mbah Seno, empu dari Tulungagung, “berarti hatimu juga terang. Tapi kalau kusam, periksalah jiwamu dulu sebelum besinya.”
🌾 Filosofi dari Dua Warna Besi
Keris mengajarkan keseimbangan. Warna gelap dan terang pada pamornya melambangkan hidup yang selalu berdampingan antara berani dan sabar, dunia dan akhirat, jasmani dan rohani.
Setiap lekukan (luk) di bilahnya juga punya makna: Luk 3 menandakan ketegasan dan kecepatan bertindak, Luk 5 menggambarkan keseimbangan hidup, Luk 9 melambangkan tingkat spiritual tinggi, Luk 13 adalah lambang kebijaksanaan paripurna.
Dalam diamnya, keris seakan berbicara tentang jalan tengah kehidupan, tentang bagaimana manusia seharusnya tajam terhadap kebenaran tapi lembut dalam kebijaksanaan.
🌍 Dari Jawa ke Dunia
Pada 25 November 2005, UNESCO menobatkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda. Dunia mengakui bahwa benda yang tampak kecil ini sesungguhnya memuat filsafat, seni, dan spiritualitas tinggi dari peradaban Nusantara.
Namun di balik pengakuan itu, para empu di desa-desa tetap bekerja dalam senyap. Mereka tidak mengejar nama, hanya menjaga nyala warisan agar tak padam.
🕯️ Penutup: Jiwa yang Menempa
Keris bukanlah benda untuk disembah, tapi untuk dipahami. Ia mengajarkan manusia agar tidak hanya tajam di ujung senjata, tapi juga tajam dalam nurani.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, sang empu kembali menunduk di depan api. Palunya beradu dengan besi, menghasilkan suara yang lembut tapi berisi. Seperti sedang berdialog dengan masa lalu, ia berbisik pelan: “Yang ditempa bukan hanya besi… tapi juga jiwa manusia.”
Keris dan Pamor: Warisan Sakral Nusantara
1. Asal Usul dan Sejarah Keris
Keris adalah senjata tradisional khas Nusantara yang memiliki makna lebih dari sekadar alat perang. Ia adalah simbol spiritual, budaya, dan identitas bangsa Indonesia.
Asal mula: Diperkirakan muncul sekitar abad ke-9 di masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Bukti keberadaannya terlihat pada relief di Candi Borobudur dan Prambanan.
Penyebaran: Dari Jawa, tradisi pembuatan dan penggunaan keris menyebar ke Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga Malaysia, Brunei, dan Filipina Selatan.
Fungsi: Dulu keris digunakan sebagai senjata, tetapi kemudian lebih sering menjadi pusaka, simbol status sosial, dan media spiritual yang dipercaya membawa energi tertentu.
2. Filosofi dan Makna Keris
Bagi masyarakat tradisional, keris bukan hanya benda mati, tetapi diyakini memiliki “roh” atau tuah. Makna filosofinya antara lain:
Pegangan (hulu) melambangkan manusia dan pengendalian diri. Bilahan (besi utama) melambangkan keberanian dan perjuangan. Warangka (sarung) melambangkan kehormatan dan pengendalian nafsu. Keseluruhan keris melambangkan kesatuan antara jasmani dan rohani.
3. Pamor: Jiwa dalam Bilah Keris
Pamor adalah pola atau motif berwarna perak keabu-abuan yang muncul di permukaan bilah keris. Pamor ini bukan lukisan, tetapi hasil paduan logam nikel, meteorit, atau besi pamor yang ditempa bersama bilah keris.
Setiap pamor punya makna dan tuah tersendiri, dipercaya membawa pengaruh terhadap pemiliknya.
4. Jenis-Jenis Pamor Keris (dan Maknanya)
Berikut beberapa pamor terkenal beserta maknanya:
Nama Pamor Ciri-ciri / Bentuk Makna Filosofis / Tuah
Pamor Wos Wutah Seperti butiran nasi tumpah Rezeki lancar, berkah melimpah Pamor Udan Mas Titik-titik seperti tetesan emas Kekayaan, kemakmuran, kejayaan Pamor Blarak Sineret Garis sejajar seperti daun kelapa Keuletan, kesetiaan, keteguhan hati Pamor Ngulit Semangka Motif seperti kulit semangka Ketenangan, keseimbangan batin Pamor Adeg Garis lurus ke bawah Ketegasan, kewibawaan, kepemimpinan Pamor Ron Genduru Pola menyerupai daun pandan Penolak bala, perlindungan dari bahaya Pamor Lar Geni Seperti nyala api Semangat, keberanian, kekuatan spiritual Pamor Beras Wutah Titik-titik kecil menyebar Simbol kemurahan rezeki dan kerendahan hati.
⚜️ Pamor dapat bersifat rekan (dibuat sengaja oleh empu) atau tiban (muncul alami tanpa direncanakan) — dan pamor tiban dianggap memiliki “tuah” lebih tinggi karena dipercaya terbentuk dari kehendak alam atau kekuatan gaib.
5. Empu: Sang Pencipta Keris
Keris dibuat oleh empu, seorang pandai besi sekaligus rohaniawan. Prosesnya bukan sekadar teknik menempa besi, tapi juga ritual spiritual yang melibatkan:
Puasa dan semedi, Mantra dan doa, Pemilihan hari baik, Persembahan sesaji.
Empu dipercaya mampu “meniupkan roh” ke dalam keris, menjadikannya pusaka yang hidup dan memiliki karakter sendiri.
6. Bentuk dan Luk Keris
Keris ada dua jenis: Keris lurus (tanpa luk) – melambangkan keteguhan, stabilitas, dan kewibawaan.
Keris berluk (bergelombang) – biasanya 3, 5, 7, 9, hingga 13 luk. Jumlah luk memiliki makna khusus, misalnya: Luk 3: tegas, cepat mengambil keputusan Luk 5: keseimbangan, kesabaran Luk 7: keberuntungan Luk 9: kekuatan spiritual tinggi Luk 13: kematangan batin dan kebijaksanaan.
7. Pengakuan Dunia
UNESCO menetapkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda pada 25 November 2005. Pengakuan ini menegaskan bahwa keris bukan hanya warisan Indonesia, tetapi juga mahakarya budaya dunia.
8. Makna Keris di Zaman Modern
Kini keris tidak lagi digunakan sebagai senjata, tetapi sebagai: Simbol kehormatan dan identitas budaya, Pusaka keluarga, Lambang spiritualitas dan nilai moral, Karya seni logam tingkat tinggi.(***)
“Pendekatan Humanis Kapolres Nabire Redam Aksi Massa, Demontrasi Berlangsung Damai dan Terkendali”
Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Massa aksi yang mengatasnamakan Tim Investigasi HAM dan Mahasiswa Puncak se-Indonesia berkumpul di Kantor DPR Papua Tengah, Senin (27/4/2026), untuk menyampaikan aspirasi terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Kabupaten Puncak. Massa yang datang dari berbagai titik di wilayah Nabire tersebut menyatukan barisan dan secara bergantian menyampaikan tuntutan melalui orasi terbuka. Dalam aksinya, mereka mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera menarik pasukan TNI non-organik dari wilayah Papua.
Selain itu, massa juga meminta aparat penegak hukum untuk menangkap, memecat, dan mengadili pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan 10 warga sipil di Kampung Kemburu, Kabupaten Puncak, sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Aksi tersebut juga membawa pesan solidaritas yang lebih luas dengan menyerukan perhatian dunia internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terhadap situasi kemanusiaan di Papua. Selama aksi berlangsung, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan pengawalan ketat di sekitar Kantor DPR Papua Tengah guna menjaga keamanan dan ketertiban. Sejumlah pejabat turut hadir di lokasi, di antaranya Dandim 1705 Nabire, Kapolres Nabire, unsur DPR Papua Tengah, DPRK, MRP Papua Tengah, serta Danlanal Nabire. Hingga kegiatan berakhir, situasi di sekitar lokasi aksi terpantau aman dan kondusif. Penyampaian aspirasi berlangsung tertib dengan pengamanan dari aparat keamanan.
Kapolres Nabire, AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, menyampaikan bahwa rangkaian aksi yang dimulai sejak pukul 07.00 WIT hingga 15.40 WIT berjalan lancar. Ia menegaskan bahwa pengamanan dilakukan secara terukur melalui koordinasi lintas instansi bersama unsur Forkopimda. “Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Meskipun ada beberapa titik yang kami izinkan untuk long march dengan pertimbangan situasi di lapangan, namun seluruh kegiatan tetap berada dalam koridor keamanan,” ujarnya. Keberhasilan pengamanan aksi ini tidak terlepas dari pendekatan humanis yang dilakukan Kapolres dalam berkomunikasi dengan seluruh pihak, termasuk para peserta aksi. Dalam interaksi di lapangan, terbangun suasana kekeluargaan di mana Kapolres menggunakan sapaan “kakak”, sementara para pendemo merespons dengan menyebut “adik”. Pendekatan persuasif dan komunikasi yang humanis tersebut dinilai efektif dalam meredam potensi konflik serta menjaga situasi tetap kondusif. Cara ini bahkan dianggap sebagai langkah yang patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh ke depan dalam penanganan aksi unjuk rasa, sehingga penyampaian aspirasi dapat berlangsung damai tanpa anarkisme. Kapolres juga memastikan seluruh peserta aksi dapat kembali ke titik kumpul dengan aman. Sebanyak 15 truk disiapkan oleh petugas, dengan tujuh di antaranya digunakan untuk mengantar peserta kembali ke Asrama Puncak di wilayah Pasar Karang, Jepara. Ia turut mengimbau para peserta aksi untuk tetap menjaga ketertiban saat kembali, agar tidak menimbulkan persoalan baru di jalan.
Meski sempat terjadi insiden kecil berupa pecahnya kaca akibat lemparan, situasi secara umum tetap terkendali. Koordinasi antara aparat keamanan dan pihak DPR Papua Tengah pun berjalan baik selama kegiatan berlangsung. Keberhasilan pengamanan ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak, termasuk TNI-Polri, pemerintah daerah, serta para tokoh masyarakat dan kepala suku. Sebanyak 827 personel gabungan diterjunkan untuk memastikan keamanan tetap terjaga. Secara keseluruhan, aksi penyampaian aspirasi di Nabire berlangsung damai dan menjadi cerminan penyampaian pendapat di muka umum yang tetap menjunjung tinggi ketertiban serta keamanan bersama. (red-enagoNews)
Nabire, Papua Tengah -enagoNews – Bupati Mesak Magai menyampaikan komitmennya dalam memperkuat implementasi otonomi daerah usai memimpin upacara peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 yang digelar di halaman Kantor Bupati Nabire, Senin (27/4/2026). Dalam keterangannya kepada media, Mesak Magai menegaskan bahwa pelaksanaan otonomi daerah tidak dapat dipisahkan dari kerangka desentralisasi yang diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Otonomi Khusus serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Menurutnya, regulasi tersebut memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus wilayahnya secara mandiri.
Ia menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki kapasitas yang cukup besar dalam mengelola potensi, khususnya sumber daya alam yang ada di daerah. Oleh karena itu, ketergantungan terhadap pemerintah pusat harus mulai dikurangi dengan mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) secara optimal. “Pemerintah daerah harus mampu mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri. Jangan terlalu bergantung pada pusat. PAD menjadi instrumen penting untuk mendorong kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Mesak Magai menjelaskan bahwa penguatan otonomi daerah harus berdampak langsung pada sektor-sektor strategis, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pembangunan infrastruktur. Ia menyebutkan bahwa keempat sektor tersebut menjadi indikator utama keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah.
Menjawab pertanyaan terkait sejauh mana implementasi otonomi daerah menjangkau wilayah terpencil, ia mengakui bahwa keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kinerja pemerintah daerah hingga ke tingkat kampung. Salah satu instrumen penting yang mendukung hal tersebut adalah alokasi dana desa dari pemerintah pusat. Menurutnya, pengelolaan dana kampung memberikan ruang bagi masyarakat di tingkat akar rumput untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Pemerintah daerah, melalui perangkat teknis, berperan dalam melakukan pengawasan agar penggunaan dana tersebut tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Perencanaan pembangunan di kampung disusun sendiri oleh masyarakat berdasarkan kebutuhan riil mereka. Ini menjadi bagian penting dari makna otonomi, yaitu kebebasan daerah untuk membangun dirinya sendiri,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahwa dana kampung telah dimanfaatkan untuk berbagai program prioritas, seperti penguatan layanan kesehatan melalui posyandu, penanganan gizi buruk, serta pencegahan stunting. Program-program tersebut dinilai sebagai bentuk konkret dari pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan lokal. Mesak Magai menambahkan bahwa kepala kampung bersama masyarakat kini memiliki kapasitas yang semakin baik dalam merancang pembangunan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang memberikan keleluasaan bagi daerah untuk menentukan program strategis sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
“Dengan kewenangan yang diberikan, pemerintah daerah dan masyarakat harus mampu merancang pembangunan yang tepat sasaran, menjawab kebutuhan masyarakat, serta mendorong kesejahteraan secara merata,” tutupnya. Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 ini menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang mandiri, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik, khususnya di wilayah Kabupaten Nabire dan daerah-daerah terpencil lainnya. (red-enagoNews)
“Upacara Hari OTDA ke-30, Pemkab Nabire Tekankan Sinergi Pusat dan Daerah”
Nabire, Papua Tengah — enagoNews – Pemerintah Kabupaten Nabire bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperingati Hari Otonomi Daerah (OTDA) ke-30 tahun 2026 melalui upacara resmi yang digelar di halaman Kantor Bupati Nabire, Senin (27/4/2026).
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos., M.Si., selaku Inspektur Upacara (Irup). Kegiatan ini turut dihadiri Ketua DPRK Nabire Nancy Karolin Worabay, unsur Forkopimda, jajaran TNI-Polri, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Aparatur Sipil Negara (ASN), serta para pelajar.
Dalam amanatnya, Bupati Mesak Magai membacakan sambutan tertulis Menteri Dalam Negeri yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, insan pers, dan seluruh elemen bangsa atas kontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Disampaikan bahwa semangat kolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai pihak menjadi pilar utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah yang responsif, transparan, dan akuntabel. Otonomi daerah dinilai sebagai instrumen strategis dalam mengoptimalkan potensi lokal di tengah keberagaman Indonesia yang luas, baik dari sisi wilayah, budaya, maupun sumber daya. Peringatan Hari OTDA tahun 2026 mengusung tema yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan visi pembangunan nasional, termasuk mendukung Asta Cita sebagai arah kebijakan pembangunan menuju Indonesia Emas. Lebih lanjut, dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa kesatuan visi, arah kebijakan strategis, serta implementasi yang sinkron di semua tingkatan pemerintahan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan, sebagaimana ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sejumlah hal strategis turut menjadi perhatian, di antaranya penguatan program prioritas nasional seperti ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, serta penurunan kemiskinan. Selain itu, reformasi birokrasi berbasis hasil (outcomes) melalui digitalisasi terintegrasi dan inovasi daerah juga menjadi fokus utama dalam mewujudkan pemerintahan yang modern dan responsif. Pemerintah juga menyoroti pentingnya penguatan kemandirian fiskal daerah, mengingat masih tingginya ketergantungan sebagian besar daerah terhadap transfer dana dari pemerintah pusat. Di sisi lain, kolaborasi antar daerah dinilai perlu ditingkatkan guna mengatasi berbagai persoalan lintas wilayah, seperti pengelolaan sampah dan pembangunan berkelanjutan. Dalam upaya mengurangi kesenjangan dan meningkatkan layanan dasar masyarakat, pemerintah daerah diharapkan terus mendorong pemerataan pembangunan serta memperkuat stabilitas dan ketahanan daerah. Menutup amanatnya, pemerintah menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur, penguatan kapasitas keuangan daerah berbasis kinerja, serta reformasi kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.
Peringatan Hari OTDA ke-30 ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan selaras dengan arah pembangunan nasional. (red-enagoNews)